Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil, dan Mulai dari sekarang....!!! -aa Gym-

Sekolah Dasar

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sekolah Menengah Pertama

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sekolah Menengah Atas

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

UNTUK INDONESIA TERCINTA

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 05 Februari 2016

Berbicara tentang Kesempatan



Download dr internet

Beberapa huruf tersusun rapi kemudian membentuk satu kata berbunyi ‘K-E-S-E-M-P-A-T-A-N’. Sebuah kata sederhana yang tidak setenar ‘SUKSES’ atau sekaliber kata ‘BERHASIL’. Namun kata yang satu ini merupakah sebuah kata sakti yang mengawali sebuah kisah dalam hidup, sering diabaikan..? seringkali iya. Karena sampai kelupaan hakikat dari kata kesempatan itu sendiri.
Perjalanan hidup ini menawarkan berlimpah kesempatan, dari yang paling sepele sampai yang paling krusial. Dari yang berlumur dosa sampai yang berguyur pahala. Begitulah hidup menyodorkan kesempatan semaunya, biarkan sang lelaku hidup memilih dari pilihan-pilihan yang ada. Bahkan garis batas antara kesempatan yang satu sama yang lain sering kali tidak memberikan ketegasan, padahal antar kesempatan itu sangat jauh berbeda.
Kemaren aku berhasil mengkhatamkan salah satu bukunya Tere Liye ‘Sunset Bersama Rosie’ cukup lama khatamnya dimulai akhir 2015 dan baru rampung awal 2016 sampai berganti tahun padahal gak terlalu tebel, bagus…? Aku pribadi akan jawab bagus. Buku itu banyak memberikan cerita tentang makna kesempatan. Ada cuplikan kata-kata yang cukup bagus mengenai makna kesempatan, lupa pada halaman berapa. Aku hanya memfoto pas tulisan saja dan tidak keliatan halamannya karena saat itu aku pengen nge-share ke WA buat temen-temen. Sebenernya dalam buku itu banyak tulisan-tulisan yang menglitik terutama tentang makna kesempatan, ini salah satu yang terfavorit versiku. Tulisan itu berbunyi:
‘Tapi kenapa Rosie malah jatuh cinta kepada Nathan? Kenapa? Dua puluh tahunku setara dengan dua bulannya? Apa karena selama ini aku tak pernah menyatakan perasaan itu? Apa karena Nathan yang menyatakannya lebih dulu maka aku tidak memiliki sisa kesempatan? Kenapa cinta tidak seperti masuk Perguruan Tinggi? Semua orang menyatakan perasaannya bersamaan, lantas yang bersangkutan memutuskan.’  
Memang kalau tidak membaca bukunya dari awal tidak se-ngefeel dalemnya kalau kita sudah membaca bukunya dari awal. Tapi akan aku berikan gambaran sedikit inti jalan ceritanya. Jadi tokoh ‘aku’ dalam buku itu bernama Tegar. Si Tegar dengan Rosie dari kecil sudah sangat akrab, kompak, pokoknya mereka berdua itu kaya amplop dan prangko. Terus setelah beranjak dewasa rasa suka itu bertransformasi menjadi rasa cinta layaknya anak yang mulai bisa merasakan cinta pada lawan jenis. Si Tegar punya rencana untuk menyatakan rasa cintanya ke Rosie di suatu tempat yang dia anggap memorable yaitu gunung Rinjani. Karena tempat ini bagi mereka berdua adalah tempat yang istimewa. Semua persiapan sudah Tegar siapkan sebaik mungkin, dari membawa bunga hingga menyusun ‘acara’ sedemikian rupa. Dengan alasan tertentu si Tegar ini ngajak temen untuk menemani ke gunung Rinjani, dia bernama Nathan. Temen baik Tegar yang kira-kira dua bulan lalu dikenalkan ke Rosie oleh Tegar. Singkat cerita justru di puncak gunung Rinjani si Nathan ini berhasil terlebih dahulu menyatakan cintanya kepada Rosie, disini sama sekali terkesan tidak ada modus-modusan atau bahkan kebencian diantara Nathan dan Tegar. Karena Tegar tidak terbayangkan kalau Nathan akan melakukan hal itu atau bahkan Tegar pun juga tidak ngeh kalau Nathan punya perasaan ke Rosie. Dan sebaliknya, Nathan pun juga tidak ngeh kalau Tegar memendam dalam-dalam perasaan ke Rosie dari bertahun-tahun lamanya. Jadi semua ini berjalan begitu saja, hingga akhirnya Tegar menghilang meninggalkan Rosie tanpa ada kabar. Kepergian Tegar ini mungkin salah satu ungkapan cintanya ke Rosie yang terlambat. Efeknya pun sungguh dahsyat,Rosie pun ternyata juga memiliki rasa yang sama dengan Tegar terbukti dia menunda pernikahannya dengan Nathan selama enam bulan. Dengan harapan akan ada sesuatu yang Tegar lakukan untuk Rosie selama enam bulan tersebut, tapi ternyata tetap tidak ada . Tegar tidak melakukan apa-apa selama emam bulan itu, bahkan dengan kesempatan yang diberikan Rosie selama enam bulan itu pun Tegar tidak tahu. Yang Tegar tahu, saat itu Nathan-Rosie sudah menikah dan dia sudah kehilangan kesempatan itu selamanya. Hingga beberapa tahun kemudian akhirnya Tegar mengetahui adanya kesempatan enam bulan itu, tapi Rosie kini sudah menjadi istri dari Nathan dan ibu dari anak-anak Nathan. Itulah kisah yang aku inget dan aku tangkap, semoga bisa tergambarkan makna akan kesempatan. Dari situ terlihat jelas bahwa ternyata Rosie pun juga memiliki perasaan yang sama dengan Tegar, hanya saja Tegar sebagai laki-laki tidak pernah mencoba mengutarakan kesempatan itu. Bahkan sekedar ngode pun tidak pernah diambil kesempatan itu. Hingga akhirnya datang seorang pria bernama Nathan yang Rosie kenal dua bulan belakangan ini karena diperkenalkan oleh Tegar. Bagaimana Nathan bisa memaknai kesempatan untuk mengutarakan perasaannya ke Rosie, ternyata Rosie pun bisa menerima pengutaraan perasaan dari Nathan tersebut. Saat itu bisa jadi Rosie menganggap bahwa Tegar tidak memiliki perasaan cinta ke dirinya karena memang Tegar tidak pernah mencoba mengutara perasaannya ke Rosie, mungkin juga pada saat itu Rosie sudah merasa butuh pendamping hidup yang pasti dan akhirnya kepastiannya itu muncul lewat pengutaraan Nathan hingga akhirnya Rosie pun berani menerima Nathan karena dianggap lebih pasti. Justru perasaan cinta Tegar ke Rosie terungkap ketika Tegar menghilang meninggalkan Rosie begitu saja dan Rosie pun membalas perasaan cinta Tegar tersebut dengan menunda pernikahan selama enam bulan. Berharap ada hal yang Tegar lakukan selama enam bulan tersebut, tapi ternyata tidak. Hingga pernikahan Nathan-Rosie pun dilangsungkan. Disini terlihat Nathan pun selama enam bulan ‘babak tambahan’ itu terlihat legowo, karena kalau ternyata selama babak tambahan itu Tegar datang ke Rosie dan memanfaatkan kesempatan tersebut yaaaa dia harus menerima dengan iklas. Begitulah gambaran karakter Nathan dari buku itu, sebenernya Nathan juga menerima kalau akhirnya Tegar dengan Rosie. Karena pada dasarnya Nathan tidak tahu kalau Tegar punya rasa cinta untuk Rosie dari bertahun-tahun lamanya. Wooooowww, bagaimana..? hhihihi… ternyata waktu yang lama tidak menjamin sesorang memaknai arti kesempatan yaaaa. Bertahun-tahun kesempatan itu ada di depan mata, tapi apa daya tidak pernah Tegar ambil kesempatan itu hingga peristiwa yang menyesakkan di puncak gunung Rinjani.
Walaupun cuman sedikit, semoga ada gambaran tentang jalan ceritanya. Maaf kalau ada perbedaan penafsiran dari buku aslinya, tetapi begitulah yang aku tangkap dan aku ingat.
Berbicara tentang kesempatan, aku pribadi ada beberapa pengalaman yang tak bisa dilupakan juga. Akan kucoba ceritakan satu yang sebenarnya sederhana si, hanya sekelas pengen foto selfie sama Ibuk, itu saja. Jadi kalau diceritakan seperti ini,
Pada jaman itu, HP Sony Ericson K800i dengan kamera 3,2 MP sudah ciamik buat jeprat-jepret berfoto ria. Rasa-rasanya bisa foto berdua sama Ibuk itu hal yang sangat memuaskan bagiku, bermodal kamera 3,2 MP sudah cukuplah buat foto berdua. Pikirku foto selfie bareng ibuk, terus akan aku jadikan foto profil di Facebook atau apalah. Sungguh memuaskan sekali.
Banyak sekali kesempatan yang sudah ditawarkan ke diriku untuk berfoto selfie berdua sama Ibuk, berkali-kali kesempatan ketika Ibuk akan berangkat berjualan ke Pasar ketika Ibuk sudah dandan rapi. Tinggal aku utarakan keinginanku ke Ibuk, ‘buk yook foto berdua’ terus ambil HP langsung jepret. Sungguh sederhana dan sepele, tapi sampai detik ini pun keinginan itu tidak pernah aku tunaikan. Kesempatan-kesempatan persis di depan mata aku lewatkan begitu saja. Bahkan Ibuk pun mungkin tidak pernah tahu kalau ternyata anaknya ini sebenarnya pengen mengajak foto selfie berdua saja. Gak cukup aku pahami kenapa saat itu ngak aku ambil kesempatan-kesempatan yang terus ada untuk mengajak selfie berdua sama Ibuk. Mungkin aku malu untuk mengutarakan itu karena memang tidak lazim bagiku, mungkin menunggu moment yang pas untuk ngajak foto berdua sama Ibuk karena memang biasanya ketika Ibuk sudah rapi mau berangkat ke Pasar justru akunya yang belum rapi kayak belum mandi atau apalah (ehhh,,, ternyata pernah juga ketika aku rapi dan Ibuk rapi saat habis keliling silaturahmi lebaran aku pun tidak mengambil kesempatan untuk foto berdua padahal saat itu malah ada kamera digital punya mbak yang kualitas kameranya tentu lebih baik dari kamera HP ku), atau mungkin aku kurang menghargai akan kesempatan yang telah ditawarkan dalam hidupku. Ahhhh…. Yang pasti memang bener aku belum bisa memanfaatkan kesempatan yang bertubi-tubi ada untuk foto berdua sama Ibuk hingga akhir hayat Ibukku. Hingga jatah umur Ibukku habis. Hingga Ibuk mendapatkan gelar almarhumah. Menyesal..? sangat mungkin iya. Dan aku sekarang sadar sebatas kesempatan saja untuk foto selfie berdua sama Ibuk di dunia ini sudah tidak ada, apalagi foto beneran. Semoga nanti aku bisa foto berdua sama Ibuk sepuasnya di Surga, aamiin.
Dari sini aku bisa belajar akan bermaknanya arti kesempatan yang diberikan ALLAH untuk hidupku.
Sekarang coba dirasakan dan dimaknai:
     -Apakah ada kesempatan seseorang untuk nikah muda..? (saat orang tersebut berumur 34 tahun)
      -Apakah ada kesempatan untuk seseorang yang pengen daftar jadi Polisi..? (saat orang tersebut   berumur 45 tahun) 
  -Apakah masih ada kesempatan untuk menjadi pemain bola professional..? (saat orang itu berumur 50 tahun)
Ahhh… mungkin hal-hal semacam ini hanya akan menyesakkan hati. Hanya akan menimbulkan pertanyaan ‘kenapa dulu tidak aku lakukan’, ‘kenapa aku menyia-nyiakan umurku’, atau kata-kata serupa lainnya.
Inget….!!! Pintu taubat akan tertutup, ketika nyawa manusia sudah berada di tenggorokan dan ketika matahari terbit dari tempat terbenamnya. Tertutupnya pintu taubat itu bisa diartikan ketika penyesalan, permohonan ampun, perbuatan baik, keimanan orang kafir yang tidak bermanfaat lagi karena ALLAH sudah tidak menerimanya. Aku kira akan lebih nyesek lagi bila tidak kesampaian memanfaatkan kesempatan taubat yang telah ALLAH berikan. Karena ini ber-efek ke akhirat.
Jadi ayoookkkk bareng-bareng memaknai akan kesempatan yang telah ALLAH limpahkan. Ambil kesempatan itu bila memang untuk mendapatkan ridho ALLAH dan menjauhlah sejauh mungkin dengan kesempatan yang berpotensi mendapatkan dosa ALLAH.
Buat temen-temen semua silakan memetakan kesempatan-kesempatan apa saja yang masih bisa dimanfaatkan untuk kehidupan yang dirasa lebih baik. Karena dari jaman dulu hingga sekarang penyesalan itu adanya dibelakang dan ‘sakiiiiit’.

Masih memiliki kesempatan mencoret-coret di kamar Ciledug,
31 Januari 2016

Aang Fauzan



Minggu, 03 Januari 2016

Katanya Mau Ngilangin Stres



Dewasa ini saat rutinitas melaju tanpa tersadar, melaju deras tanpa ampun menjadi pemandangan yang sudah biasa. Ber-KRL ria dengan bersikut-sikutan atau meliuk-liuk mencari celah di kerumuhan kendaraan bermesin yang tak terhitung lagi jumlahnya sungguh ini tak bisa dihindari lagi di Ibu Kota tercinta ini khususnya dari pengamatanku saat ini.
Betapa merindunya dengan kata “libur” dari generasi yang mengalami hal semacam itu. Ingetkah kemaren ketika libur natal berlanjut dengan weekend, terhitung libur 4 hari Kamis-Jum’at-Sabtu-Minggu. Apakah yang terjadi dengan jalanan di sebagian kota besar..? apa yang menjadi hot news di media massa kala itu..? yaa tepat sekali –muaceeeet-
Dalam coretanku kali ini, ngak akan membahas mendalam tentang macet apalagi membahas sampe mundurnya Dirjen Perhubungan Darat pasca tragedi kemacetan kala itu. Sama sekali tidak membahas itu...!
Justru kali ini aku pengin mengangkat tentang –liburan-. Pernahkah mendengar seseorang menggrutu sedang galau..? sedang stresss..? sedang buanyak masalah..? solusi pertama yang disodorkan kala mengalami hal semacam itu adalah –liburan- bisa dikiaskan dengan jalan, tracking atau bahasa-bahasa kekinian yang semakin neko-neko. “yuk… kapan kita kemana..?” aihhh singkat, padat, jelas, dan komplit nya kalimat itu.hihihi
Jujur buat sekarang ini aku bukanlah orang yang hobi liburan, bahkan temen-temen ku sedikit banyak sudah menyadari hal itu. Alsannya apa…? mungkin belum punya uang yang lebih atau mungkin pengen ngirit. Ah gak penting… Cuman kalau suatu saat diajak piknik dan aku ngak ikut maap-maap aja nii ya,hehe..
Kadang tiba-tiba terpikirkan, ketika seseorang akan menghilangkan stress, menghilangkan galau, mencari ketentraman dan memutuskan piknik ke suatu tempat. Kenapa bisa tiba-tiba muncul di pikiranku..?? Tak lain tak bukan karena perjuangan untuk mencapai tempat liburan tersebut (khusus yang ada muaceet nya). Bayangin ketika akan berangkat dari rumah, sudah menyiapkan hal terbaik tadi malem dari pakaian ternyaman hingga kacamata hitam berkilap siap menemani liburan besok. Esok hari pun telah tiba, sebelum matahari mulai bersinar indah sudah tancap gas menuju lokasi liburan. Ehhhh, di jalan muaceet ceet ceet karena memang pas hari libur dan banyak orang yang keluar rumah dengan kendaraan masing-masing. Sebelum sampe lokasi liburan harus menikmati muaceet yang tidak masuk dalam agenda indah liburan, itupun belum tahu akan sampe kapan lolos dari kemacetan itu. Alhamdulilah, lolos juga dari kemacetan dan akhirnya sudah masuk ke area liburan (sambil mengelap keringat yang menjagung, gembrobyos). Ternyata di dalam area libuaran buanyaaak sekali orangnya, buat cari parkir saja susahnya minta ampyuuun. Dan lagi-lagi harus antri lagi buat beli tiket menikmati wahana yang tersedia. Yang sabarrrrr ya.hehe
Memang aku bukanlah orang yang hobi piknik, tetapi pernah lah kalau cuman piknik. Ya memang tidak banyak si….
Kebanyakan ketika piknik, kita sudah memiliki harapan yang sangat tinggi dengan ke-piknikan tersebut. Berharap akan mendapatkan hal istimewa dari tempat tersebut, meraih kegembiraan di tempat piknik tersebut. Memang kita biasanya akan mendapatkan kegembiraan, kesenangan tersebut tetapi sayangnya tidak setiap piknik hal itu terlunasi sesuai harapan. Awalnya memiliki harapan 10 ternyata hanya mendapatkan 7.5, gambarannya kurang lebih seperti itu.
Kemudian apakah pernah terpikir ketika akan piknik ke suatu tempat, mencari informasi bagaimana keterjaminan ibadah di tempat itu..? Tempat shalatnya apakah ada dan layak..? Terlebih kalau hari Jum’at (khusus laki-laki). Karena ngak bisa dipungkiri ketika kita piknik, ketika sudah terbuai dengan suasana lokasi piknik akan kelupaan tugas utama kita tugas yang lebih utama dari piknik itu sendiri yaitu shalat (awal waktu berjamaah). Bahkan kita hanya pergi ke Mall pun, tak jarang akan terlupakan dengan shalat awal waktu. Menemukan ruang shalat yang nyempil di sudut Mall pun kadang sulit. Begitulah kejadian yang kerap ditemukan, ketika akan menyegarkan suasana justru tak sadar telah menikam kejam kualitas beribadahnya. Kasihan sekali ya..
Ketika belum merasa puassss, ketika masih belum mendapatkan apa yang diharapkan sebelumnya mau tidak mau jam terus berjalan waktu pulangpun tak terelakkan. Harus pulang sekarang, yaa sekarang juga…!!! Di kendaraan saat perjalanan pulang sudah terbayang gimana suasananya yaaa. Capek dan ngantuk, terlelap tau-tau sudah sampai rumah saja. Syukurrrr, gak liat betapa macet nya tadi. Yaahhh kalau itu pakek kendaraan pribadi dan ada yang nyupirin, kalau pakek kendaraan umum apa yaaa bisa terlelap tau-tau sampe depan  rumahhh. Alamakkkkkk…. Berarti harus menyaksikan kemacetan lagiiii.. sudah sudah sssstttttttt, S.A.B.A.R…!!
Ehh ehhh sampai rumah kira-kira stress nya hilang ngak ya..? emmmm. Ahh yang penting sudah selfie, hihihihi…..
Liburan seperti inikah yang dinamakan penghilang stress, penghilang galau, atau penambah kebahagiaan…? Silakan dijawab, ngak usah malu-malu…
Aku hanya akan mencoba menawarkan solusi, ketika kita merasa capek atau jenuh dan butuh ‘sesuatu’ layaknya piknik. Silakan ber-piknik ria tapi harus diperhatikan hal-hal yang dirasa bisa jadi pengganggu, terutama nganggu ibadah. Karena ketentraman itu akan kita peroleh ketika kita semakin dekat dengan ALLAH SWT. Bisa jadi iktikaf di masjid dengan khusyuk dan syahdu merupakan solusi dari kejenuhan itu, dari  segi biaya murah meriah juga. Jangan-jangan memang iktikaf itu solusinya. Hanya butuh sarung, baju koko, kopyah (laki-laki), kalau cewek rukuh  terus berwudhu dan carilah mesjid. Gak perlu menyiapkan hal aneh-aneh seperti kacamata apalagi sampe pentung selfie, sungguh ngak perlu.
Aku pengen menegaskan juga bahwa disini tidak ada larangan untuk piknik kemana saja yang dimau, cuman risiko ditanggung penumpang ya.
Semoga tulisan ini ada manfaatnya walaupun cuman seiprit. Kalau banyak kurangnya mohon dimaafkeun ya. Terimakasih sudah mau membaca.

Ciledug, 3 Januari 2015

Aang Fauzan

dari mbah Google

Kamis, 31 Desember 2015

Sosok Tahun Baru Masehi

31 Desember merupakah hari terakhir perhitungan Masehi dalam tahun tersebut yang besoknya akan memasuki tahun yang baru, bulan yang baru, begitu juga tanggal yang baru. Momentum diakhir tahun dan akan memasuki tahun yang baru ini, banyak sekali penghuni bumi berbondong-bondong membuat target atau rencana apa saja yang pengin dicapai pada tahun yang baru nanti. Karena pada momentum ini layaknya manusia akan diberikan selembar kertas putih bersih yang belum ada coretan apapun, kemudian lembaran kertas yang penuh dengan coretan-coretan sepanjang tahun lalu akan ditarik yang artinya sudah tidak bisa lagi meneruskan coretan di kertas tersebut.
Akhir tahun 2015 yang spesial buat aku pribadi adalah tepat bisa mengatamkan Al-Qur’an di hari ini. Bisa dibilang ini ketidaksengajaan yang membuat puas hati, seperti biasanya hari ini aku berusaha membaca Al Qur’an sebanyak target harian. Ehhh, ternyata hanya ditambah beberapa lembar lagi akan khatam hari ini. Tanpa ragu aku melanjutkan beberapa lembar itu dan alhamdulillah ba’da ashar sudah khatam. Ketika aku mencoba menulis ini tanggal 1 Januari 2016, tadi pagi abis shalat shubuh alhamdulilah bisa mengawali tilawah Al Qur’an dengan membaca al-fatihah di halaman terawal kitab suci umat Muslim ini.
----------------------------------------------------------------
31 Desember 2015
Hari ini aku pulang kantor setelah berjamaah shalat Isya di Masjid kantor, dibilang sengaja..? tidak salah juga, bahkan ada sedikit rencana mau tidur kantor dengan maksud pengen tahu suasana sekitar kantor jam 12 malam nanti. Kayaknya seru gitu lho. Aku sadar penuh bahwa hari ini adalah hari terakhir di tahun 2015, terasa begitu cepatkah tahun 2015 berlalu..? aku pun tak kuasa membantah bila merasakan hal seperti itu. Memang terasa cepat.
Diperjalanan pulang ke rumah dari kantor, kebanyakan jalanan terasa sepi. Mungkin ini salah satu tersepi yang pernah aku alami di sebagian besar jalan yang aku lewati malam ini. Dalam hatiku hanya membatin ‘mungkin mereka lagi persiapan buat nanti malam’. Yang tak biasa lagi di perjalanan pulang kali ini adalah kanan-kiri jalan buanyak bermunculan pedagang kembang api, mercon, jagung mentah yang masih terbungkus kulit, sampe terompet warna dominan kuning emas bergelantung. Aku sudah tau pasti buat apa barang-barang itu bermunculan di hari ini. Aku sudah tau tanpa harus diterangkan lagi.
------------------------------------------------------------
Mungkin aku salah satu orang  yang dibesarkan dari keluarga yang mengenal tahun baru itu biasa saja. Aku mencoba menarik peristiwa-peristiwa akhir tahun dibeberapa tahun ke belakang. Tercatat di memoriku, tidak ada sama sekali goresan yang mengatakan pernah ‘pesta’ akhir tahun bareng keluarga. Bahkan hanya sebatas bakar-bakar jagung atau makan malam spesial gitu, tidak ada sama sekali di memoriku. Yang terbersit justru kala jaman-jaman kecil dulu mungkin SD, saat dimana aku mengotot mengajak diriku sendiri untuk kekinian di masa itu dengan mencoba lebih dewasa mengikuti kemeriahan tahun baru dengan tidur malam dan melihat kembang api dengan memanjat pohon demi bisa melihat potongan api yang melambung tinggi ke atas. Dan aku pun lupa hal itu bener-bener pernah ku lakukan atau tidak, karena sudah sekitar 14 tahun tertinggal di belakang. Dan terekam di memoriku ada peristiwa tahun baruan dengan temen-temen di kosan kala kuliah, kita bikin sate ayam sendiri di kosan, makan bareng, dibarengi dengan bergiliran memberikan penilaian ke masing-masing satu per satu. Sungguh itu peristiwa yang menyenangkan buat aku, kala itu kita mengambil momen tahun baru untuk menjalin keakraban dan evaluasi diri. Aku kira bukan merayakan tahun baru.
Jaman SMP mungkin menjadi masa yang sok merasa sudah dewasa, kala itu aku pernah bertekat pengen merasakan pesta tahun baru di pusat kota itu kayak apa sih. Penasaran… aku Tanya ke temen yang berpengalaman, yang aku inget katanya menjelang perhitungan detik demi detik pergantian tahun akan ada kembang api, mercon, menghidupkan motor di tempat dengan di gas-gas war wer war wer dan paket kebiasaan lainnya. Kala itu aku  menganggap itu adalah hal yang menyenangkan sekali, kekinian sekali dimasa itu. Tapi lagi-lagi di memori ku tak ada rekaman kejadian aku ikut pesta tahun baru di pusat Kota kelahiranku. Hanya angan-angan saja.
Sampe dewasa ini pun di mindset ku malam tahun baru ya layaknya malam-malam seperti biasa. Malam yang dihabiskan di rumah dengan aktivitas seperti biasa, hanya saja belakangan ini aku tidur larut malam sekedar nonton film di tv yang tiba-tiba menayangkan film bagus atau sekedar nonton konser malam tahun baru dari tivi. Atau bahkan hanya berdiam diri beraktivitas seadanya di kamar. Yang pasti bukan pergi ke tempat keramaian membawa pernak-pernik tahun baru yang katanya akan merayakan tahun baru.
Sejak dulu hingga tahun baru kali ini hal yang masih aku percayai baiknya adalah ketika memasuki tahun yang baru coba evaluasi diri dan membuat rencana di tahun depan buat menjadi insan manusia yang dirasa lebih baik. Tahun ini pun aku akan coba merenung, untuk melakukan hal ini. Bismillah…
Terimakasih tahun 2015 dan selamat datang tahun 2016……
Semoga rencana-rencana mulia di tahun 2016 bisa dapet ridho ALLAH SWT.
Aamiin…..

Ciledug, 1 januari 2016

Aang Fauzan

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites